Catatan LKMM-TD 2012

Foto-foto dari catatan penulis saat mengikuti Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa-Tingkat Dasar. Selengkapnya di Galeri Foto.

QUOTES OF LIFE

Sebuah postingan yang berisi "QUOTES" lahir bagi sang penginsirasi hidup saya, ayah yang telah mengajariku bagaimana menatap dunia dengan sudut pandang yang berbeda.

Spektrofotometri Serapan Atom

Ini adalah tugas akhir penulis ketika di Sekolah Menengah Teknologi Industri.

Rancangan Sistem Pengkaderan

Bagaimana sistem pengkaderan yang baik itu? Kelompok 3 menjawabnya!

Sekilas Ki Hadjar Dewantara

Galeri foto-foto dinding makam Ki Hadjar Dewantara di Taman Wijaya Brata Yogyakarta

QUOTES

Mempunyai ambisi untuk mengalahkan orang lain terkadang secara tidak sadar muncul. Tetapi butuh kesadaran jika ingin menumbuhkan ambisi untuk mengalahkan diri sendiri.
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Mei 2010

Bab.I. Kursi Rotan untuk Ayah

Setiap pagi ketika ibu membuka mata, ia juga membangunkan suaminya yang selalu ia lihat pertama kali. Setelah mereka cuci muka, selanjutnya ayah pergi ke teras sedangkan ibu menuju dapur membuatkan kopi untuk ayah dan menyiapkan sarapan. Hal itu bukan tanpa alasan mereka lakukan, karena ayah yang memintanya. Beliau selalu ingin bangun sebelum pengantar koran datang. Karena pasti pengantar koran akan melemparkan koran secara sembarang ke dalam halaman rumah. Ketika itu terjadi, maka rumput nan hijau dan basah karena embun pagi, akan menyambut headline news pada koran pagi itu dan membuatnya basah. Ayah benci jika lembar beritanya itu basah dan lembab, karena akan membuat acara baca koran paginya rusak. Setelah membuat pengantar koran memberikan koran secara lebih beradab daripada dilempar, ayah akan duduk di kursi rotan, menyalakan rokok dan mulai membaca koran.

Itu adalah kursi rotan kesayangan ayah. Warnanya coklat muda terlihat dari segala sisi. Kursi rotan itu mempunyai keantikannya sendiri. Rangkanya meliuk-liuk apik berkesan kokoh. Sandaran dan alasnya terbuat dari rotan dengan ukuran lebih kecil yang dianyam rapih namun kuat menopang. Dari dekat terlihat serat-serat dari rotan terpoles menambah keindahan tampilannya. Kehalusan dari bahannya membuat kursi ini lebih dari sekedar kursi, melainkan sebuah karya seni. Tetapi dibalik semua itu, aku tak tahu mengapa ayah sangat menyayangi kursi rotannya.

" Kamu belum tahu ya Devi? Kursi itu menyimpan banyak kenangan masa kecil ayahmu." Jelas ibu singkat. Aku hanya menelan mentah-mentah penjelasan ibuku dan kembali berlari menuju boneka kesayanganku. Perbincangan itu sudah sekitar tujuh tahun yang lalu dan aku masih mengingatnya baik. Namun Devi kini bukan Devi kecil lagi, Devi sudah tumbuh besar dan dewasa cara pandangnya. Karena itu aku kembali penasaran dengan kursi rotan itu.

" Dev, hayo lagi melamun apa?" Ibu segera menyadarkanku, mataku yang tadinya kosong kembali terisi memandang ibuku yang mulai duduk di sampingku.

" ah bukan apa-apa ma, cuma kenapa sih papa masih memakai kursi rotan ini? Padahal mama juga tahu keadaan kursinya dah kayak gimana?" Aku langsung meluncurkan pertanyaanku itu dengan polosnya. Ibu yang mendengar pertanyaanku hanya tersenyum kecil dan merapatkan posisi duduknya terhadapku. Insting kekanak-kanakan membimbingku untuk bersandar pada bahunya dan Ibu mulai menceritakan kisah dibalik kursi itu seperti mendongeng padaku.

" Nak, kita hidup di dunia ini diberi Allah dua kantong. Dan disadari atau tidak, kita harus mengisi kantong itu jika akan pergi jauh." Kata sang ayah paruh baya pada anaknya.

" Diisi uang pah, untuk jajan soto nanti kalau lapar di jalan, papa kan suka soto." Anak yang hampir habis masa balitanya itu menjawab lugu. Sang ayah tertawa kemudian mengelus lembut rambut anaknya.

" Pintar, tapi bukan hanya itu. Kita harus mengisinya dengan bekal, bekal duniawi, dan surgawi." Sang ayah melanjutkan penjelasannya. Matanya menatap pada anaknya yang paling bungsu itu, menatap anaknya yang sepertinya bingung. Namun tak terkira bahwa pelajaran itu terpatri hebat dalam ingatan, kini jadi kenangan. Kursi rotan itu tentu juga merasakannya, ia memang benda mati, tetapi ia juga saksi bisu bagi sebuah kehancuran.

" Sampai kapan orang tua itu hidup?"

" Iya, aku butuh duit, jual tanah warisan pasti lumayan untuk nambah modal. Dah gak sabar pengen pindah ke apartemen."

" Tapi pasti si bungsu dapat bagian yang paling besar, huh!"

" Belum tentu, semua tergantung wasiatnya."

Jantungnya rasanya berhenti sejenak mendengar penggalan pembicaraan itu kemudian selanjutnya berdetak cepat. Siapa sangka ketiga kakaknya berkata-kata seperti tak menginginkan ayahnya masih bisa bertahan dalam keadaan yang kian renta. Tak pernah ia duga juga sebelumnya menjadi seorang yang tak diinginkan untuk pernah dilahirkan, dilahirkan menjadi si bungsu.

" Tega sekali mereka membicarakan wasiat sebelum ayah tiada." Kata si bungsu dalam hati sembari masih menyimak kata demi kata yang terlontar antara ketiga kakanya itu.

" Yahh, kalau memang wasiat mengatakan seperti itu, rubah saja."

" Gampang kan?"

" Cuma butuh uang sedikit."

Kembali percakapan itu terurai. Matanya terbelalak, peluh jatuh tetes demi tetes. Hawa sekitar mulai panas, Si bungsu tertusuk kecewa menahan amarah. Tubuhnya bergetar menerima campur aduk segala emosi yang menjadi satu. Tak kuat ia menerima kenyataan itu. Langsung ia tinggalkan tempat itu, langkahnya berderap tak terdengar, cepat, secepat derap jantungnya.

Entahlah kapan ia akan menceritakannya pada ayahnya. Namun ia selalu tak sampai hati mengutarakannya. Takut akan menyakiti hati sang ayah. Beberapa kali ia menahan diri untuk tidak mengadu. Tapi tak lama setelah pembicaraan itu, sosok ayah itu akhirnya pergi. Serangan jantungnya kali ini tak bisa dijinakkannya. Si bungsu menyesal tak berada di samping ayahnya saat itu.

Seringai kemenangan terkembang di bibir setiap kakaknya yang mereka balut dengan tangisan di depan para pelayat. Tangisan kemunafikan, diantara air mata yang jatuh siang itu, air mata dari ketiga kakak kandungnya itu yang paling palsu. Si bungsu berselimut duka, hatinya hancur dan kecut mengangkat peti tempat tidur ayahnya untuk selamanya. Tapi tak ada daya darinya, persekongkolan itu seperti endapan lumpur di air nan jernih. Terlihat tapi tak akan mengotori air dan naik ke permukaan jika tak diusik.

Perumpamaan tentang dua kantong terbukti, ayahku tak mau mengusik masalah harta warisan, ia tidak memintanya. Ia lebih memilih pundi-pundi surgawi untuk ia bawa bersama kursi rotan penuh kenangan itu. Warisannya terekam semua di sebuah kursi, sebagai saksi bisu. Benar juga, nasehat dan petuah menjadi warisan yang tak kan pernah habis walau kau berikan pada semua orang di dunia ini.

Kini setiap memasuki halaman rumah, pandanganku tertuju pada kursi rotan itu. Ia menjadi sangat menyolok ketika kau sudah tahu kisah dibaliknya.


* * *

Disela-sela santap malam aku kembali teringat dengan kisah sebuah kursi kesayangan ayah. Teringat akan hal itu membuatku mencuri-curi pandang pada ayah.
" Devi, kenapa kamu memandang ayah seperti itu? Ada apa? Minta dibeliin sesuatu ya?" Ternyata ayah juga menyadari jika aku memandanginya. Karena ketahuan seperti itu membuatku cengar-cengir. Terlihat ibu juga tersenyum melihat tingkahku.
" Tidak papah, tidak ada apa-apa kok, hehe" Kalau sudah terpepet pasti aku jawab sekenanya aja.
" Yang bener? Kamu tidak pengen handphone terbaru kan Dev?" Cibir ayah kepadaku.
" Ayah nih, gak ada apa-apa kok, tenang saja papahku." Jawabku meredam rasa penasaran ayah. Mendengar jawabanku yang malah semakin membuat ayah penasaran, beliau melanjutkan makan tapi
memandangku dengan tatapan penuh dengan pertanyaan. Lalu beliau meraih rokok, menyalakannya dengan korek kayu dan mulai memenuhi ruang makan dengan asap rokok. Ketika itu terjadi berarti acara santap makan malam itu sudah selesai. Cepat-cepat aku meninggalkan meja makan dan berlari menuju kamarku. Seharian ini aku jadi memikirkan ayah terus. Selama ini tak ku sadari beliau selalu menyimpan kenangan pahit di setiap kesempatan untuk duduk di kursi rotan kesayangannya.
Betapa jika seseorang mempunyai kenangan indah, sesuatu yang bisa membuat kenangan itu bangkit akan selalu ia jaga. Seperti setiap kesempatan yang ku rasakan bersama keluarga kecil ini. Aku tak ingin semua ini hilang begitu saja. Pintu kamarku segera ku kunci sesaat setelah aku masuk.
Di atas meja belajarku ada ayamnya. Celengan ayam itu sepertinya sudah gemuk, karena setiap hari ku kasih makan beberapa uang seribuan atau kadang-kadang recehan yang malas ku bawa dalam dompet. Wah memang dia sudah gemuk, berat sekali ketika ku angkat. Tetapi kasihan sekali aku harus memukul-mukulmu untuk mendapatkan uangku. Pukulan yang ku lancarkan pun tak terlalu keras, takut menjadi gaduh dan menarik perhatian ayah dan ibu.
" Akhirnya retak juga!" Senyuman mengembang di bibirku dan aku semakin semangat memukul-mukul ayam dari tanah liat itu dengan penggaris besi seadanya. ' Tuk! Tuk! Prakk!'
" Akhirnya pecah juga!" Cepat-cepat ku jungkir balikkan ayam itu dan keluarlah semua recehnya kemudian baru uang kertasnya yang perlu sedikit dirogoh-rogoh. Setelah benar-benar kosong, mulai ku hitung semua uang yang berserakan. Jumlahnya lumayan, capai ratusan ribu tapi tidak tembus setengah juta.
Ku sadari setelah aku melakukannya, ternyata aku telah terinspirasi oleh ayahku sendiri. Beliau membuatku lebih menyukuri saat-saat indah bersama keluarga ini. Dengan uang ini, kenapa tidak aku membelikan sesuatu untuk ayah sebagai kado ulang tahunnya? Tetapi apa yang harus ku berikan pada ayah?
Entahlah, masih ada waktu kurang lebih satu setengah bulan untuk memikirkannya. Lagipula aku juga bisa membicarakannya dengan ibu.

Selasa, 24 November 2009

Ada Cinta Di Pasar

Kembali ia membuka mata, di tempat tidur yang sama, kamar yang sama, akan tetapi dengan hari yang berbeda, tapi baginya tetap saja sama, karena tidak ada yang lain selain sekolah yang sama, bosan. Tap tap tap, langkahnya menapak pada kotak-kotak lantai keramik,berjalan keluar kamar menuju ke arah kulkas. Membuka dan menuangkan air dingin. Matanya masih sipit, karena kerak-keraknya, diusap lalu ia menguap, mengecap seteguk air dan membaca lembaran kertas yang menempel oleh magnet sayur. Ia picingkan matanya dan melirik dengan sudut matanya,
Mama dah buatin kamu sandwich buat kamu sarapan.
Tertanda : mama.
‘srak! Kresek kresek!’ dibuatnya lembaran itu jadi bola kertas dan ‘pluuung!!’masuklah kertas itu ke tempat sampah. Tak lama kemudian beranjaklah ia lau menyambar handuk dan memulai ritual mandinya.

****
Andrian sudah berada di ruang makan bersama tas berseragam lengkap tak
Urakan dan bersepatu ketz bernomor 78 hiaju. Matanya tak menyorot sinar gelora yang membara bersemangat. Tampilanya rapih namun jiwanya lusuh karena kurang sentuhan, sentuhan orang tua. Karena memang ke dua orang tuanya sibuk kerja terus, menjadikan ia remaja yang kesepian. Sudah biasa baginya.
Pagi itu cukup sejuk menjadikan kepulan asap pada susu panasnya sedikit lebih banyak tapi ya tetap ia telan begitu saja bersama sepotong sandwich. Sisanya ia berikan pada anjingnya, Molly. Anjing yang dibangsawankan, makan dan minum lengakap dengan piring dan gelas, konyol. Kemudia Andri pergi ke sekolah begitu saja.

****
Jam 06.50, bangku sekolah yang keras telah menyambutnya. Sentak ia banting
tasnya, ‘breggg!!!!’
“Woy kenapa?????” Tanya Randi teman sebangkunya yang sangat kaget seakan tak marah malah menanyakan keadaan Andri.
“ Biasalah,RAn!” jawab Andri singkat.
Randi hanya mengganguk dan meneruskan membaca novel imutnya. Hobi Randi memang membaca, membaca novel. Kedua insan sebangku itu hanya terdiam larut dengan kesibukan mereka sendiri hingga bel tanda dimulainya pelajaran berbunyi.
****
Pelajaran yang membosankan pun dimulai sampai akhirnya.
****
‘kriiingggg!!!’ bel pulang sekolah berbunyi.
Walau kelas sudah selesai tapi berat sekali rasanya untuk Andri menangkat badannya dari bangku. Andri memang cuek, Randi tidak heran, tapi akhir-akhir ini Andri berbeda.
“ Tumben kamu kayak gini,ndri?” tanya Randi sembari membalik lembaran halaman bukunya.
“ Biasalah Rand.” jawab Andri singkat seperti tadi pagi.
“ Enggak, beda, ini gak biasa!” sahut Randi cepat.
Andri mengangkat kepalanya, memicingkan matanya menyadari sesuatu bahwa kata-kata Randi benar. Tapi hal itu yang kini jadi pertanyaan, ’kenapa????’
Lalu mereka berpisah pada siang itu dan pulang kembali ke rumah.
****
Diperjalannan, ia terpikirkan omingan Randi. Rasanya itu adalah pertanyaan kecil namun sulit baginya untuk menjawab. Hal itupun kini menjadi misteri.
Hari Senin pukul 19.36 WIB. 30 menit baerlalu setelah mendengar mobil papahnya menapaki garasi. Tapi pintu kamarnya tak pernah terketuk, tak pernah ada yang menyapanya.
Andri menghela napas dan melanjutkan tugas laporan praktikum . tak ada yang ia lakukan setelah menyelesaikan tugasnya, matanya menatap langit-langit kamar, tubuhnya dipeluk tempat tidur hangat. Ia kenbali memikirkan misterinya sendiri.
“ kenapa hidupkuw flat gini ya? Datar-datar aja.......”
Tubuhnya membalik ke kiri matanya terpejam lalu tiba-tiba pagi menjelang.
****
Mata Randi sudah melototi gegak gerik Andri ketika akan duduk disebelahnya.
“okay, I know...I know....”
Andri menaruh tasnya dengan lemah gemulai diatas bangku, lalu ia duduk perkahan. Randi tersenyum kecil karena acara sarapannya dengan Novel tak terganggu.
“Masih kayak kemaren????”
Andri menjawab sebelum Randi membuka mulut untuk bertanya
kenapa cih????”
Randi berpaling dari bukunya.
“Gak tauk. Semua terjadi gitu aja.” Jelas Andri.
Randi hanya mengerutkan dahinya, lalu mengemasi novelnya dan diganti dengan buku pelajaran pada jam pertama.
Hari itu hari pendek, jam belajar mengajar hanya sampai pada jam ke enam, bagi siswa-siswi hal itu menyenangkan. Tapi tidak untuk Andri pulang awal berarti semakin awal juga ia harus mulai bosan dengan harinya. Selang beberapa menit sekolah bubar dan murid-murid berhamburan keluar kelas. Tiba-tiba hape Andri bergetar. Tumben banget batinnya, tapi ia lihat teryata mamanya yang telfon.
“Apa?????!!!! Ke Pasar?????!!!!!besok????!!!!!!” terbelalaklah mata Andri.
Rencana berkunjungnya kakak mamanya, yaitu Pakdhe Bambang dari ibukota memaksa mamanya untuk menyambut.
“ iya sayang, kita harus siapin masakan yang spektakuler, kan jarang-jarang pakdhemu itu dateng ke Jogja. Jadi temenin mama ke pasar besok ya???? OKEY!!!”
Mamanya dengan semangat membujuk anaknya.
“ ya terserah mama lah!!!”
Setelah jawaban singkat itu. Pembicaraan pun berakhir. Dengan disetujuinya perjajian antara ibu dengan anaknya bahwa mereka akan pergi ke pasar bersama-sama.
“ gak papa lah ndri,,, setaun sekali ini. Hehehehe”
Randi tertawa kecil mendengar kekonyolan itu. Andri nyegir kecut!! Dan berlalu meninggalkan Randi. Karena tidak ada rencana disiang itu, Andri hanya menghabiskan waktunya dikantin sendiri ngemil dan hot spotan.
****

Dok!dok!dok!!!!
Andri terangkat dari alam tidurnya. Kembali terdengar suara ketukan dipintu kamarnya, ia hanya membolak balik badannya di tmpat tidur seperti daging ham yang digoreng dibolak balik diatas penggorengan. Jiwanya masih mengantuk, tapi karena sudah jani dengan mamanya, ia terpaksa bangun dan membuka pintu kamarnya. Matanya melotot, jam 4 pagi?
“ hahhhh????!!!! Kok jam 4 pagi ceh...????”
Andri pun menjatuhkan tubuhnya ditempat tidur menyadari ia akan pergi ke pasar tradisional!!!!! Dan benar apa yang Andri duga,
“ayo sayang cepet cuci muka, udah ampir jam 5 ne.”
“mah, ini masih jam 4, mau ke pasar tradisional? Gak ke swalayan aja?”
“Nih daftar blanjaan mama! Banyak banget kan? Sekalian keperluan buat sebulan, hehe.”
Mamanya menjelaskan sembari menyodorkan daftar belanjaan dengan tulisan cacing kepanasan khas tulisan dokter, Ibunya Andri memang seorang dokter.
“bentar mah, update status fb dulu. Kan jarang-jarang ne aku ke pasar, hehe.” Andri pun terpaku pada BB (blackberry) stormnya yang khas dengan keypad QWERTY dan teknologi akselerometernya yang selalu dibanggakan.
****

ekikikikikikik!Bromm! mobil sedan sporty milik ayahnya mulai dikompori. Ibunya keluar dari rumah dengan make-up lengkap. Andri menggeleng kepala melihat ibunya yang harus selalu tampil cantik bak selebriti walaupun hanya akan belanja di pasar. Sudahlah. Karet ban mobil sedikit berdecit meninggalkan jalan perumahan menuju pasar tradisional setempat yang berjarak dua kilometer lebih.
Setelah mobil mewah itu terparkir, mereka langsung meluncur ke kawasan pasar yang luas. Bau khas pasar tradisional menyeruap memasuki hidung Andri membuatnya mengangkat bibirnya hingga menutupi lubang hidungnya.
“Ayo sayang, kita bagi dua ya daftarnya, biar cepet blanjanya, kalau dah selesai ketemuan lagi disini jam setengah enam, ayo gerak!” suruh ibunya.
“asal mama senang lah!”
Andri menerima setengah daftar belanjaan kemudian langsung memulai pencarian. Kurang lebih 10 jenis sayuran dengan berbagai kebutuhan sedikit membuat Andri kualahan. Parfum mahalnya pun kalah dengan parfum campuran berbagai macam rempah-rempah, sayuran, beberapa ikan aromatik yang amis.
Memaksanya ingin cepat-cepat keluar dari tempat itu. Harga yang ditawarkan pun tak jadi masalah walaupun tak ditawar dahulu, penjual setempat pun jadi sedikit tersenyum karena pembelinya adalah anak orang kaya yang enggan nawar kalau disadari harga yang agak mahal.
“whatever lah, yang penting dapet dan cepat keluar dari sini.”
Gerutu Andri saat berpindah dari lapak satu ke lapak lainnya.
“kembang kol, brokoli, sawi putih, sawi ijo, lombok merah, lombok rawit, tomat,
wortel, kubis, kacang panjang. Halah halah, mau bikin gado-gado neh?”
Andri mengecek belanjaannya satu-satu, tangannya sudah penuh dengan bungkusan kertas plastic dengan berbagai berat. Tapi waktu baru menunjukkan pukul lima lebih sepuluh menit, ia menyadari bahwa terlalu cepat berbelanja. Sembari menunggu ibunya ditempat yang sudah ditentukan, ia hanya duduk-duduk saja. Kali ini waktunya bisa ia sempatkan untuk melihat sekitar, keadaan pasar, setiap detil penjual,dagangan hingga pembelinya. Sembari meneguk minuman isotonic, sudut matanya yang bergerak cepat menangkap penglihatan, penglihatan yang berbeda, yang bertolak belakang dengan keadaan pasar, karena begitu indah.
Matanya kini ia picingkan, menyisir sudut pasar dengan pandangan tajam mencari objek yang tak sengaja tertangkap tadi.
****

“Ah, itu dia!”
Didapatkannya sesosok wanita sebayanya di arah barat laut, sejauh sekira-sekira 110 yard darinya. Tapi karena jarak yang jauh, tidak begitu kelihatan jelas sosoknya. Akhirnya Andri putuskan untuk beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan belanjaannya sejenak. Pandangannya tak lepas dari sosok wanita itu, penasarannya terjawab setelah Andri melengggak lenggok melewati lapak-lapak penjual dan mencoba mendekati wanita itu. Tapi tak genap Andri menempuh setengah jarak dari wanita itu, bergegaslah wanita itu pergi setelah mendapat uang kembalian dari si pedagang. Andri terhenti langkahnya, terpaku karena kepergian sosok yang memesonanya. Sorot matanya memancar keheranan pada dirinya sendiri. Herannya pada dirinya yang terpesona karena sosok wanita yang sebenarnya tak begitu istimewa. Sempat ia melihat sekilas wajah wanita itu, rambutnya sebahu di kundir ke belakang, matanya bercahaya, bibirnya tipis manis merekahkan senyuman yang tak itung-itungan manisnya walaupun hanya pada pedagang sayur.
Tingginya tak banyak lebih dari pundak Andri. Tak istimewa, namun mempesona. Andri mengelengkan kepalanya membalik badan, menghela nafas dan berjalan kembali menghampiri sayurannya tadi.
****

Tepat pukul setengah enam, semua belanjaan sudah ditaruh di bagasi dan bersama ibunya di kursi penumpang. Andri memacu mobil sport ayahnya.
Dalam perjalanan, Andri terbayang terus akan sejak wanita tadi. Siapa dia? Siapa namanya? Kenapa dia bias sangat mempesona?
Mobil sport itu kini sudah terparkir di halaman rumah dan belanjaan semua sudah masuk ke rumah. Andri bergegas untuk membersihkan dirinya, membasuh badannya yang sudah bau ikan. Dalam guyuran air hangat dari shower matanya terbelalak menyadari sesuatu, selama ini hidupnya datar-datar saja karena tak ada sosok wanita di hari-harinya.
Wanita? Tidak juga, karena tak sedikit wanita cantik-cantik di sekolahnya, nyatanya Andri tetep cuek-cuek saja, lalu apa?
“bukan hanya wanita, aku harus mencari jawabannya lebih jauh.
Dan sepertinya wanita itu adalah jawaban semua pertanyaanku.” Andri tersenyum lega.
****

Andrian sudah berdiri di teras bersama tasnya, berseragam lengkap tak urakan dan bersepatu kets bernomor 78 hijau. Matanya menyorotkan sinar gelora yang membara bersemangat. Tampilannya rapih dan jiwanya telah bangkit karena telah tersentuh, tersentuh oleh cinta. Hatinya tak sabar menanti hari esok untuk kembali ke pasar, tentu saja ia pasti akan diam-diam pergi sendiri ke pasar. Mencari jawaban atas pertanyaan : Siapakah dia?
Senyumannya menertawakan kekonyolan dirinya sendiri, karena mencari cinta di pasar seperti ada aja yang jualan cinta di pasar. Kemudian Andri pun pergi ke sekolah begitu saja. Dari kejauhan Andri mendengar ayahnya uring-uringan.
“Andri! BMW papa kenapa baunya jadi kayak bau ikan busuk!!” ayah Andri terdengar uring-uringan dari kejauhan.
Andri pun langsung tancap gas motornya sembari berteriak.
“maaf pah, tadi pagi BMWnya nongkrong di pasar! Ha ha!”